Bisnis Tiket Pesawat Online

Program Affiliate Indowebmaker
Tampilkan postingan dengan label Jalan menuju perubahan yang spektakuler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan menuju perubahan yang spektakuler. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2008

CITRA DIRI

CITRA DIRI

Pernahkan Anda menyadari bahwa pada saat Anda merasa senang, orang lain bersikap sangat baik pada anda? Perubahan mereka menggelikan, bukan?
Dunia merefleksikan diri kita. Pada saat kita membenci diri sendiri, kita pun membenci orang lain. Pada saat kita merasa bahagia dengan keadaan kita seperti apa adanya, dunia tampak begitu indah.
Citra diri kita adalah cetak biru yang dengan tepat menentukan perilaku kita, orang-orang yang bergaul dengan kita, apa yang akan kita usahakan dan yang akan kita hindari. Setiap pikiran dan tindakan kita bersumber dari cara kita memandang diri sendiri.
Citra diri kita diwarnai oleh pengalaman kita, keberhasilan dan kegagalan kita, dan pendapat kita tentang diri sendiri serta reaksi orang lain terhadap kita. Dengan meyakininya sebagai kenyataan, kita selanjutnya akan hidup dalam lingkungan gambaran ini.
Dengan demikian, citra diri kita menentukan :
• Seberapa besar kita menyukai dunia dan menyukai hidup di dalamnya.
• Seberapa banyak pencapaian kita dalam hidup ini.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Karena itu, Dr. Maxwell Maltz, pengarang buku terlaris Psycho-Cybernetics, menulis, ”Tujuan psikoterapi adalah mengubah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri.”
Jika menurut Anda, anda tidak bisa matematika, maka Anda akan selalu mengalami kesulitan dalam hitung menghitung. Mungkin karena dipicu oleh pengalaman buruk sebelumnya, Anda mengembangkan sikap yang mengatakan, ”Aku tidak bisa matematika.” Karena itu, Anda tidak mencoba. Biasanya, Anda akan tertinggal semakin jauh. Jika suatu saat Anda berhasil, Anda berkata ”Itu hanya kebetulan.” Pada saat anda gagal, Anda berkata, ”Nah! Itu buktinya aku tidak bisa!” Kemungkinan selanjutnya adalah Anda akan mengatakan kepada orang lain bahwa Anda tidak bisa berhitung. Semakin sering Anda mengatakan kepada saudara, suami, tetangga dan manajer bank Anda tentang kelemahan ini, dan semakin dalam citra itu tertanam dalam diri Anda.
Langkah pertama menuju perbaikan besar adalah mengubah cara kita berpikir dan berbicara tentang diri kita. Orang yang lamban menangkap pelajaran menjadi cepat melakukannya begitu ia mengubah pemikiran tentang kemampuan dirinya. Jika citra diri Anda mengatakan koordinasi tubuh Anda sangat bagus, anda akan dengan mudah memulai olahraga baru. Jika citra diri Anda mengatakan Anda seorang yang canggung, maka Anda akan menghabiskan banyak waktu dengan mengkhawatirkan diri Anda menjatuhkan bola dalam genggaman Anda dan Anda sunguh-sungguh menjatuhkannya.
Selama Anda memandang diri anda seorang yang tidak pernah punya uang, Anda akan selalu tidak beruang. Jika Anda memandang diri Anda ahli mengatur keuangan, Anda akan makmur.
Gambaran diri kita seperti pengatur suhu sehingga kita selalu berperilaku sesuai dengan jangkauan yang telah ditentukan. Mungkin Fred mengharapkan kira-kira lima puluh persen kebahagiaan dalam peristiwa-peristiwa hidupnya. Karna itu, setiap kali segala sesuatunya berjalan lancar, ia akan berpikir, ”Tunggu! Aku tidak mengharapkan sebaik ini! Sebentar lagi pasti ada yang tidak beres.” Ketika hal itu terjadi, Fred menarik napas dalam-dalam dan berkata, ”Aku tahu semua itu tidak akan bertahan lama.”
Fred mungkin tidak menyadari bahwa ada orang di dunia ini yang tidak merasa bahagia selama hidupnya, dan ada yang merasa selalu bahagia. Kitalah yang menciptakan kuailtas hidup kita sendiri, berdasarkan citra kebahagiaan kita.
Artinya, KITA MENENTUKAN citra diri kita sendiri. Kita menentukan nilai diri kita dan menentukan seberapa besar kebahagiaan yang kita inginkan.

Trim's
Yudi.

Sabtu, 23 Februari 2008

RANGKUMAN

RANGKUMAN
Kita tidak pernah terikat dengan pola. Pola lama mungkin bertahan tetapi tidak berarti tak bisa dihilangkan. Tetaplah berpikir positif tentang diri dan kondisi Anda. Disiplin mental dalam masalah ini mungkin tidak mudah, tetapi sangat besar manfaatnya. Anda harus selalu mengemukakan sisi-sisi baik diri Anda dan terus menerus membayangkan hidup Anda berjalan seperti yang Anda inginkan. Anda akan menciptakan pola kebahagiaan yang baru.
Dengarkanlah kaset-kaset yang membangkitkan motivasi dan lahaplah buku-buku tentang kesuksesan. Belajarlah dari kaset yang memperdengarkan ketegasan dan lewatkanlah waktu bersama-sama orang yang bisa Anda timba ilmunya. Anda bisa menuliskan lagi pola-pola menjadi orang yang Anda inginkan.
Selain itu, gunakan ”rangkuman” untuk secara sistematis meninggalkan hal-hal yang merugikan Anda dan menyatukan pola-pola yang memajukan hidup Anda.

Jumat, 22 Februari 2008

PEMBENTUKAN POLA

PEMBENTUKAN POLA
Kita membentuk pola perilaku sejak lahir. Jadi sifatnya menetap dan bertahan.
Misalnya, pola makan kita. Ketika kita masih bayi, kita menangis karena berbagai sebab: kehausan, kepanasan, kedinginan, kesepian, ingin dipeluk, melatih paru-paru, mengompol, ingin mainan, minta perhatian, dan seterusnya. Pada saat menangis, sering kali, kita diberi makan. Maka terbentuklah asosiasi mengenai penyelesaian semua masalah tersebut, yaitu dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulut kita. Karena itu, jika anda merokok, minum atau makan berlebihan, Anda tidak perlu bersusah payah mencari asal-usul program Anda.
Pada saat merasa frustasi, kesepian, atau tertekan. Anda tahu mengapa salah satu ”lampu penerang” terbesar dalam hidup Anda adalah lampu yang ada di dalam lemari es. ”Penyelesaian” dengan botol minuman atau rokok berasal, sebagian dari kondisi serupa.
Demikian pula banyak karakter kita pada saat ini terbentuk dari pengalaman di awal masa kanak-kanak kita. Di masa itu pikiran kita begitu terbuka dan kosong: kita yang pertama adalah dengan orang tua kita, pengaruh mereka terhadap hidup dan hubungan kita di kemudian hari sangat besar. Dengan sadar – sering kali tanpa sadar kita menciptakan pola yang merefleksikan pengalaman kita bersama mereka. Misalnya :

• Kita menjalin hubungan dengan orang yang mirip dengan orang tua kita. Misalnya, tanpa kita sadari, kita bekerja dengan atasan atau membangun persahabatan dengan orang yang mirip ayah atau ibu kita.
• Kita menjalin hubungan dengan orang lain yang merefleksikan hubungan orang tua kita dengan orang lain. Jika orang tua kita lembut dan penuh kasih, kita akan cenderung memiliki sifat yang serupa. Jika mereka sering menyakiti hati orang lain, kita pun akan menyerap sifat itu.
• Kita mencari pasangan yang mirip ayah atau ibu kita. Hal ini tidak kita lakukan satu atau dua kali, tetapi berkali-kali. Ini bisa disebabkan karena kita membentuk gambaran bawah sadar sejak kanak-kanak yang mengatakan, misalnya, ”pria sejati adalah yang tinggi, kulitnya gelap, dan pendiam” (seperti ayahku) atau ”wanita seharusnya tidak begitu tinggi dan perilakunya terpuji,” (seperti ibuku). Tanpa sedikit pun menyadari semua ini, kita lalu mencari pasangan yang sesuai dengan gambaran itu.

Kualitas hubungan kita dengan orang tua kita juga membentuk pola hubungan kita dengan orang lain. Jika sewaktu masih kecil kita mengalami rasa bersalah atau pengabaian, maka selanjutnya kita akan terus menarik dan berhubungan dengan orang yang memperlakukan kita sebagai orang ”jahat”. Demikian pula jika kita memperoleh kasih sayang dan perhatian di masa kanak-kanak, maka ketika dewasa, kita akan cenderung tertarik pada orang yang memperlakukan kita dengan penuh hormat. Singkat, kita menarik apa yang kita harapkan, dan dunia akan memperlakukan kita sesuai dengan yang kita inginkan.
Kita tidak membicarakannya secara mendalam di sini. Bagaimanapun juga, dengan mengenali masalahnya, kita berarti telah memecahkan separo dari masalah itu. Anda perlu menyadari pola Anda dan memiliki gambaran mengenai penyebabnya.